Daily Calendar

Rabu, 03 Februari 2010

Modernisasi Pendidikan Islam

Modernisasi Pendidikan Islam

( Pesantren dan Surau )

Oleh : ‘IMRON

A. Pendahuluan

Sejarah perkembangan pendidikan Islam dimulai sejak agama Islam masuk ke Indonesia, yaitu kira-kira pada abad kedua belas Masehi1. Salah satu stetemen yang sulit di sangkal, bahwa Islam sangat besar pengaruhnya bagi pembentukan budaya dan tradisi mansyarakat Indonesia sampai hari ini. Eksistensi Islam di Indonesia sangat mempengaruhi kultur budaya masyarakat yang mayoritas beragama Islam, dan terbesar di dunia merupakan bukti bahwa Islam sangat berpengaruh terlebih dalam pembinaan masyarakat melalui pendidikan yang sudah ada di pesisir terutama di Aceh dan Selat Malaka.

Sejak mulai masuk Islam ke tanah Aceh ( 1290 M ) pendidikan dan pengajaran mulai lahir dan tumbuh dengan amat suburnya. Terutama setelah berdiri kerajaan Islam di Pasai dan banyak Ulama Islam yang mendirikan pesentren seperti Tengku di Geuredong, Tengku Cut Maplam2.

Perkembangan pendidikan Islam di Indonesia pada awal permulan masih dilaksanakan secara tradisional belum tersusun kurikulum seperti saat ini. Baik itu pendidikan di surau maupun pesantren. Mondernisasi pendidikan Islam di Indonesia sangat di perlukan. Modernisasi pendidikan Islam diakui tidaklah bersumber dari kalangan Muslim sendiri, melainkan diperkenalkan oleh pemerintahan kolonial belanda pada awal abad 19.

Program modernisasi pendidikan Islam mempunyai akar-akarnya tetang “Modernisasi” pemikiran dan instituisi Islam secara keseluruhan. Dengan kata lain modernisasi pendidikan Islam tidak bisa dipisahkan dengan gagasan dan program modernisasi Islam. Kerangka dasar yang berada dibalik modernisasi Islam secara keseluruhan adalah modernisasi pemikiran dan kelembagaan Islam merupakan persyarat bagi kebangkitan kaum muslim di masa modern3.

Pendidikan Islam baik itu kelembagaan dan pemikiran haruslah dimodernisasi, mempertahankan kelembagaan Islam tradisional hanya akan memperpanjang nestapa ketidakberdayaan kaum muslimin dalam berhadapan dengan kemajuan dunia modern4.

Menurut Ibn Taimiyah secara umum pembaharuan dalam Islam timbul karena : 1) membudayanya khurafat di kalangan kaum Muslimin, 2) kejumudan atau ditutupnya pintu ijtihad dianggap telah membodohkan umat Islam, 3) terpecahnya persatuan umat Islam sehingga sulit membangun dan maju, 4) kontak antara barat dengan Islam telah menyadarkan kaum Muslimin akan kemunduran.5

Pembaharuan atau modernisasi pendidikan Islam di Indonesia di awali oleh para pelajar-pelajar Muslim Indonesia yang belajar ke timur Tengah lebih khusus di Mekkah. Setelah selesai mereka kembali dengan membawa perubahan dalam pendidikan Islam dari cara tradisional ke pendidikan secara modern.

II. Pembahasan

A. Priode Pendidikan Islam Di Indonesia

1. Pendidikan Islam Di Indonesia Pada Tahun 1899-1930.

Pendidikan Islam di Indonesia sebelum tahun 1900 masih bersifat halaqoh ( nonklasikal). Selain itu madrasah-madrasah tidak besar sehingga kita tidak menemukan sisa-sisanya. Salah satu pesantren yang berdiri sebelum tahun 1900 yaitu pesantren Tebuireng yang didirikan K.H Hasyim Asy’ari6.

Tokoh-tokoh Islam Indonesia yang mendirikan pesantren merupakan Alumni-alumni dari Mekkah . Mereka bersamaan naik haji dan tinggal beberapa tahun untuk belajar mendalami ilmu agama setelah tamat mereka kembali ke Indonesia membawa warna baru bagi pendidikan Islam . Tokoh tersebutlah yang mendirikan pesantren seperti pesantren Tebuireng yang dirikan oleh KH. Hasyim ‘Asy’ari, pesantren Al-Mushatafiyah Purba baru Tapanuli selatan yang dirikan oleh Syaik Mustafa Husein tahun 19137.

Dalam sejarah Minangkabau terdapat ulama besar dan termasyhur ialah syekh Burhanuddin murid dari Syekh Abdul-Rauf Singkil ( Aceh) yang telah mendirikan Surau di Ulakan Pariaman. Beliau ini yang mengembangkan Pendidikan agama Islam di daerah Minangkabau8.

Metodologi pengajaran masih didominasi oleh system sorogan, dimana guru membaca buku yang berbahasa Arab dan menerangkan dengan bahasa daerah kemudian murid-murid mendengarkan. Selain itu evaluasi belajar sangat kurang diperhatikan, hal ini didiga karena tujuan belajarnya lillahi ta’ala.9

Secara umum kurikulum lembaga pendidikan Islam tahun 1930 meliputi ilmu-ilmu ; bahasa Arab dengan tata bahasanya fiqh, akidah, akhlak dan pendidikan. Sarana pendidikan yang dipergunakan masjid dan madrasah ( kelas). Kelas tidak diukur dari hasil evaluasi tapi kelas menurut tahun masuk atau periodisasi. Tidak ada istilah kenaikan kelas, begitu 6 tahun atau 7 tahun mereka dianggap sudah tamat dan berhak untuk mengajar10.

Bahwa pendidikan pada masa sebelum tahun 1900 merupakan masa tradisional dalam system pendidikan Islam di Indonesia. Masa tersebut belum adanya pembaharuan tentang system pendidikan baik pada kurikulum, kitab-kitab yang masih banyak menggunakan tulisan tangan manusia dan metode pengajaran yang mengunkan system bandungan dan halaqah dalam proses belajar mengajar.

2. Pendidikan Islam di Indonesia pada tahun 1931-194511

Menurut Mahmud yunus dimana dimulainya modernisasi pendidikan Islam di Indonesia di mulai dari tahun 1931 lembaga pendidikan Islam Indonesia memasuki warna baru. Pembaharuan pendidikan Islam Indonesia di rintis oleh para alumni-alumni yang belajar di negara timur tengah khususnya Mekkah.

Pengaruh pendidikan modern sangat mendapat respon positif, karena banyak lembaga pendidikan yang menganut system modern seperti Kulliah Mu’allimin Islamiyah yang berdiri pada tahun 1931 Pimpinan Mahmud yunus. Selain itu Pondok Modern Darussalam Gontor ponorogo pimpinan K.H Imam Zarkasyi sudah mengikuti kurikulum dan system pendidikanNormal sebelumnya masih secar tradisional.

Selain pengetahuan umum sebagai pembaharuan dalam periode ini, selain itu juga pembaharuan dalam bidang metodologi misalnya Mahmud Yunus menerapkan tariqah al-mubasyirah dalam belajar bahasa Arab, dan metodologi pengajaran setiap bidang studi sangat variatif. Adapun evaluasi sudah menjadi alat ukur keberhasilan siswa.

Menurut Imam Zarkasyi pengaruh pembaharuan pada masa ini terhadap masyarakat, yakni wawasan keislaman umat Islam semakin luas, pola pikir semakin rasional, alumni pesantren dapat melanjutkan pendidikan ke universitas baik dalam maupun luar negeri.

Awal abad ke-20 merupakan masa pembaharuan model dan system pendidikan Islam di Indonesia. Pembaharuan tersebut berasal baik dari kaum reformis Muslim sendiri maupun dari pemeritahan kolonial Belanda.

B. Lembaga pendidikan Islam Indonesia

1. Pesantren

a. Gambaran Umum pesantren Masa Awal

Pesantren atau pondok pesantren merupakan sebuah pondok pendidikan yang terdiri dari seorang guru-pemimpin umumnya seorang haji, yang disebut kyai dan kelompok murid laki-laki yang berjumlah tiga sampai ribuan orang yang disebut santri. Secara tradisional, sampai tingkat tertentu, para santri tinggal dalam pondok yang menyerupai asrama biara, mereka mengurusi diri sendiri mulai dari memasak hingga mencuci pakaian sendiri.

Bangunan pokok pesantren hampir keseluruhan, kecuali dewasa ini, terletak di luar kota, biasanya terdiri dari sebuah masjid, rumah kyai dan sederet pondokan santri. Pengajaran sendiri dilakukan tanpa paksaan, santri tidak dipaksa untuk menghadiri pengajian yang dilakukan kyai, karena santri dapat tetap di pondok asal dapat menafkahi dirinya sendiri. Karena itu tingkat penguasaan santri amat tergantung pada individu santri sendiri. Individu yang giat akan memperoleh hasil yang memuaskan, sebaliknya banyak pula santri yang tidak membawa bekal ilmu yang berarti. Dengan demikian dalam system pondok tidak terdapat kelas atau penilian, karena santri dapat meninggalkan kapanpun mereka mau.

Dengan demikian jalur keluar masuk orang dalam pondok pesantren sangat bebas, tidak ada ikatan, cukup dengan izin kyai yang mudah diperoleh jika memiliki reputasi baik. Bagi santri ingin menjelajahi berbagai pondok pesantren demi spesialisasi ke ilmuan yang dimiliki para kyai yang jelas dan berbeda. Seorang kyai mungkin ahli dalam fiqh, hadits, teologi, ataupun filsafat.

Walaupun ada indikasi yang menyamakan pesantren dengan biara, namun pesantren amat berbeda dengan biara karena tidak dihalangi bagi santri untuk menikah, status perkawinan apapun yang dimiliki seseorang tidak menghalanginya untuk pondok di pesantren12.

Berdasarkan gambaran tersebut bahwa pesantren adalah lembaga pendidikan yang amat terbuka, lembaga pendidikan agama yang dibuka siapa saja yang haus pengetahuan agama, tanpa ikatan yang ingin memperdalam ilmu agama. Pesantren merupakan sebuah lembaga pendidikan yang sangat khas dan tidak terdapat diluar Indonesia.

b. asal usul Pesantren

Pesantren merupakan tradisi pengajaran agama Islam orisinil yang lahir dari tradisi Islam Indonesia sendiri yang khas. Pesantren bermula di tanah Jawa dan meluas hingga keluar jawa termasuk semanjung Malaka. Alasan pokok pendirian pesantren adalah untuk mentrasmisi Islam tradisional sebagaimana terdapat dalam Kitab-kitab klasik yang ditulis para ulama besar berabad-abad lalu. Kitab-kitab klasik tersebutlah yang dikenal dalam tradisi pesantren sebagai kitab kuning, yang mempersentasikan warna kertas kitab yang menguning13.

Sejarah rinci awal mula pesantren, dalam kenyataannya tidak banyak diketahui karena minimnya informasi yang merinci kapan lembaga tersebut pertama kali mucul. Dalam berbagai babak walaupun pesantren di jelaskan seperti dalam Serat Centini, namun kurang akurat sebagai sumber karena tidak menyebutkan pesantren secara langsung. Lembaga pendidikan yang terdapat di sana hanya di namakan Paguron atau Padepokan 14.

Beberapa pakar justru melihat pesantren sebagai hasil adopsi dari system pendidikan kutab yang berkembang dalam tradisi Islam klasik, mulai dari dinasti Umayyah hingga selanjutnya. Di mana model pendidikan kutab yanag terdapat dalam tradisi Islam abad tengah, dalam tradisi Islam-Indonesia kemudian dipopulerkan dengan nama “ Pondok Pesantren “ yaitu lembaga pendidikan Islam di dalamnya terdapat seorang kyai ( pendidik) yang mengajar dan mendidik para santri ( pelajar) melalui sarana masjid digunakan sebagai tempat penyelenggarakan pendidikan tersebut, dilengkapi pula dengan fasilitas pemondokan bagi para santri yang kebanyakan berasal dari luar daerah. Ciri-ciri awal pesantren adalah; 1) Adanya kyai sebagai pengajar, 2) adanya santri sebagi pelajar, 3) adanya masjid sebagai sarana pembelajaran, 4) adanya pemondokan santri.15

Namun demikian, masih terdapat paradoks tentang asal usul pesantren. Pesantren dari segi bentuk, memang dapat dilihat sebagai lembaga tipikal Indonesia yang khas, yang berbeda dengan pendidikan tradisional Islam lainnya, namun pada sisi lain, tradisi kitab kuning yagn mewarnai pesantren jelas tidak berorientasi Indonesia tapi berorientasi Mekkah sebagai pusat Islam.

c. Sejarah perkembangan pesantren

1. Pesantren periode pra abad-19

Menurut riwayat yang pertama kali mengadakan ‘ pondok pesantren” bukan dalam arti sesungguhnya sebagai tempat bagi santri untuk memperdalam ilmu agama, adalah Maulana Malik Ibrahim atau sunan Gresik ( w. 1419 M ). Yang dirikan di Jawa.16

Pada tahun 1475 diterangkan pula bahwa Raden Fattah telah mendirikan di hutan Glagah Arum, yang diupayakan untuk mendidik para da’I dalam propaganda islam . perkembangan pesantren terus melaju hingga berdirinya kerajaan Demak, pelajaran yang diberikan umumnya pelajaran Islam tingkat dasar, kitab yang dipergunakan dinamakan prombon, juga memuat ilmu agama dasar, doa, pertabiban dan ilmu ghaib. Primbon tersebut biasa terlarang bagi yang tidak berhak menjadi murid. Pelajaran agama saat masih sangat sederhana. Hal ini berlangsung hingga menjelang abad ke-1917.

Survai belanda pertama terhadap pendidikan asli tahun 1819, bahkan memberi kesan bahwa pesantren yang betul memang belum ada saat itu di seluruh Jawa. Lembaga-lembaga pendidikan yang ada mirip pesantren ( pengajian al-Qur’an), tersebar di priangan, Pekalongan, Rembang, Kedua, Surabaya, Madiun, dan Ponorogo, di daerah lain tidak terdapat pendidikan resmi sama sekali, kecuali pendidikan yang didirikan di rumah pribadi atau masjid. Demikian juga di kalimantan, Sulawesi dan lombok, belum terdapat pesantren sebelum abad ke-20, pendidikan Islam hanya dilakukan secara informal di masjid atau dirumah para kyai. Bagi yang memiliki minat keilmuan tinggi biasanya langsung menuju Jawa atau Mekkah untuk menimbah Ilmu.18

2. Pesantren abad ke-19

Memasuki abad ke-19 baru terdapat pesantren yang benar-benar diakui secara luas sebagai pesantren. Pesantren pada masa ini masih terkenal adalah : 1) pesantren Tebuireng yang didirikan 26 Rabi’ul awal tahun 1899 M. oleh KH. Hasyim Asy’ari, 2) Pondok pesantren Tambak Beras Jombang, didirikan oleh kyai Hasbullah, 3) pesantren Redjoso, Peterongan, Jombang didirikan oleh KH.Tamin pada tahun 1919, kemudian diteruskan oleh KH. Ramli Tamin dan juga KH. Mustami’an Ramli. 4) Pondok pesantren Modern Gontot Ponorogo oleh KH ImamZarkasyi pada tahun1926M.19

Pondok pesantren dalam perkembangannya telah banyak memberikan sumbangan bagi Indonesia, bahkan beberapa cendikiawan besar, ulama besar dan bahkan birokrat banyak yang berasal dari pondok ini.

Selain di Jawa, pondok pesantren pada abad ke-19 dan juga abad ke-20 telah tersebar di seluruh Indonesia, dapat dikatakan teersebar hampir keseluruh penjuru nusantra, Jambi misalnya memiliki pesantren Nurul Iman, walaupun dikatakan Madrasah namun menggunakan system pesantren yang diperbaharui.

d. Tradisi keilmuan

a. Metode pengajaran di pesantren

Tradisi keilmuan di pesantren disinyalir oleh Krel A. Steen Brink sebagai kelanjutan dari tradisi pengajaran Al-Qur’an sebagai lembaga pendidikan Islam secara sederhana di Indonesia. Dalam tradisi keilmuan pesantren pengajaran di mulai dengan pendidikan bahasa Arab, melalui pengajian kitab untuk mempelajari bahasa Arab yang tersusun pendek dalam bentuk sajak. Para murid diharuskan menghafal teks Arab tersebut dengan fasih dan lancar, baru kemudian kandungan dari hafalan diuraikan oleh para kyai.

Pada pesantren yang melibatkan jumlah santri yang besar, pengajaran bahasa diberikan dengan melibatkan para guru Bantu ( Ustaz) yaitu murid yang mendapat kepercayaan dari para kyai untuk mengajar santri-santri di bawahnya. Untuk pengajaran tersebut, metode yang digunakan masih serupa dengan pengajian Al-Qur’an, yaitu secara individual ( metode Sorongan).

Dalam kenyataan di lapangan metode sorongan banyak menghadapi kendala, karena minimnya sarana yang ada ( minimnya kitab) dan tidak ada penerapan disiplin yang keras, padahal secara psikologis para santri umumnya adalah anak-anak atau remaja yang baru berpisah dari orang tuanya. Akibatnya, hasil pengajaran cenderung kurang memuaskan dan sangat tergatung pada individu masing-masing santri, bahkan ada indikasi sebagian santri tidak dapat memperoleh hasil pendidikan lebih lanjut karena gagal dalam system sorongan20.

Metode pengajaran individual ataupun sorongan, diberikan untuk pelajaran bahasa tingkat dasar dan tinggi, berupa pelajaran Nahwu dan Sharaf yang memakan waktu lama belajar sangat relatif antara enam bulan sampai enam tahun bahkan lebih tergantung pada kyai dan bakat para santri.

Metode sorongan walaupun berada dalam tahap awal, namun merupakan metode yang paling sulit dilakukan, karena metode tersebut sangat individual, menuntut kesabaran, kerajinan, ketaatan, kedispinan santri perindividual tanpa paksaan kyai. Karena itu kebanyakan santri yang tidak mampu memantapkan diri pada metode tersebut juga gagal dalam pelajaran yang lebih tinggi dengan metode bandongan atau weton. Dengan demikian hanya santri yang mantap dalam metode sorongan yang akan memperoleh hasil dari metode bandongan21

Metode bandongan diterapkan untuk tingkat pelajaran- keagamaan tingkat tinggi yang diberikan setelah santri menguasai pelajaran bahasa Arab. Pelajaran tingkat tinggi tersebut meliputi ilmu fiqh, tauhid atau ushuluddin serta tafsir Al-Qur’an. Setelah itu santri dapat mengambil pelajaran sampingan seperti tasawuf, hisab atau falak, yang tergantung pada keahlian dan perhatian para kyai.

Metode bandongan atau weton biasa dikongkritkan dalam bentuk pengajian bersistem halaqah, para kyai hanya membaca teks baris demi baris, menerjemahkan dan kalau dipandang perlu disertai dengan penjelasan yang cukup panjang. Dengan metode demikian, seorang santri dapat mempelajari satu karya yang luas selama beberapa tahun, sebelum dapat mengerti keseluruhan isi kitab. Lamanya waktu belajar disebabkan pula oleh kebiasaan para kyai untuk membaca beberapa kitab yang dikuasai sekaligus. Palajaran ini berlangsung hingga bertahun-tahun dan hanya diselingi dengan liburan Maulud dan Ramadhan selama sebulan atau lebih22.

Keberhasilan metode bandongan juga sangat individual, karena seorang santri tidah harus menunjukkan bahwa mereka telah mengerti pelajaran yang dihadapi. Bahkan dalam prakteknya para kyai cenderung memahami para santri telah memiliki dasar untuk metode tersebut sihingga metode tersebut biasa berjalan cepat tanpa mengulas bahasan yang dianggap mudah. Sistem hanya efektif bagi santri yang telah mantap dalam metode sorongan 23.

Jika dipandang dari sudut pengembangan intelektual, tradisi keilmuan tercermin dari metode pengajaran yang diterapkan di pesantren, hanya bermanfaat bagi para santri yang rajin, cerdas, memiliki kemauan keras untuk mempelajari agama. Serta santri yang bersedia mengorbankan waktu untuk mengabdi pada agama. Dengan nada sindiran yang kritis bahkan Mahmud Junus menyatakan bahwa metode sorogan atau bandongan bersistem halaqah yang diterapkan dalam pesantren hanya dapat menghasil satu persen santri yang pandai dan 99 persen hanya pandai untuk membeli minyak atau kebutuhan dapur dengan harga yang murah 24.

Penilaian mahmud Junus memang dapat dibenarkan jika hanya ditilik dari segi intelektual, namun pandangan tersebut cenderung radikal dan agak tertutup, karena jika diteliti lebih luas, pesantren justeru amat berhasil dalam pengajaran agama terutama dalam menanamkan pengaruh agamis yang dihasilkan dari lingkungan pesantren yang khas, berupa disiplin dalam menegakkan shalat dan kewajiban Islam lainnya. Jenis perolehan ini malah lebih penting dari pada sekedar kepandian formal intelektual. Mengingat ,harapan para orang tua sendiri ketika merelakan anak-anaknya pergi kepesantren tidak dititik beratkan untuk menjadikan anaknya sebagai ulama, tapi bagaimana harus menjadi umat Islam yang baik25.

Santri baru dalam pesantren tidak diikat tahun ajaran baru, mereka bebas masuk kapan saja. Karena itu untuk menyesuaikan diri atas pelajaran yang dilalui santri yunior dibimbing oleh santri senior beberapa bulan satri baru terus dibimbing hingga dinilai mampu mengikuti pelajaran yang diberikan oleh kyai 26. kegiatan bimbingan dari santri senior biasa dilakukan dalam berbagai halaqoh dengan metode bandongan, dengan mengajarkan berbagai kitab mulai dari kitab-kitab elementer hingga ke kitab tingkat tinggi. Kegiatan ini dilakukan dari pagi buta ( subuh)hingga larut malam, kecuali hari jum’at. Keadaan ini memungkinkan karena memang terdapat santri senior yang di beri wewenang oleh kyai untuk membimbing yuniornya, para santri senior biasanya dipanggil ustaz oleh santri yunior. Selanjutnya, beberapa ustaz pilihan yang telah berpengalaman akan diangkat menjadi kyai muda yang dipersiapkan sebagai regenerasi para kyai.27

Para ustaz sendiri bukannya tidak lagi belajar, mereka tetap dibimbing oleh kyai dalam kelas musyawarah, memiliki system pengajaran amat berbeda dengan system sorongan atau bandongan. Dalam system tersebut para ustaz harus memperlajari sendiri kitab yang ditunjuk, baru kemudian diadakan semacam seminar dengan panduan kyai. Biasanya hampir seluruh proses musyawarah dilakukan dalam bahasa Arab, yang merupakan sarana latihan untuk mematangkan kemampuan bahasa juga menyerap argumentasi yang terkandung dalam kitab klasik. Jika terdapat ustaz yang dinilai mampu menggali sumber referensi dari berbagai kitab dan mempu menyelesaikan problem yang diberikan kyai maka ustaz tersebut akan direkomendasikan untuk mengajar kitab-kitab tingkat tinggi ( kyai muda)28.

Dengan demikian dalam pesantren dapat dikatakan terdapat struktur social yang hirarki menurut penguasaan ilmu. Struktur tersebut berjenjang dari kyai sebagai pimpinan tertinggi dan pemilik pesantren , kyai muda, ustaz, santri senior, dan juga santri yunior.

Walaupun kyai diakui sebagai pimpinan puncak pesantren, namun dalam kehidupan social dalam pesantren hampir seluruhnya diatur oleh para santri sendiri. Kyai tidak terlibat dalam kehidupan para santri, kyai hanya mengajar, menjadi imam, dan khatib shalat jum’at, serti memberi hiburan dan doa bagi tertimpa kemalangan seperti sakit. Selebihnya, seluruhnya segi kehidupan dalam pesantren diatur oleh para santri sendiri yang terdiri dari kyai muda hingga santri yunior. Untuk para santri biasa memilih seorang lurah pondok yang akan mengatur dan bertanggung jawab pada kehidupan bersama para santri. Bersama kyai, lurah menyusun peraturan untuk persoalan-persoalan praktis yang pelaksanannya diserahkan sepenuhnya kepada lurah pondok29.

Dalam kehidupan social demikian jelas bahwa para santri dalam lingkungan pesantren seakan hidup dalam miniatur masyarakat. Oleh karena itu pula biasanya santri setelah hidup di dalam masyarakat yang sebenarnya, cenderung memiliki daya adaptasi social atau adjustment yang sangat tinggi. Mereka bahkan cerderung menjadi pengatur dalam strata social, mulai dari tingkat terendah hingga tingkat tinggi seperti dalam tingkat kenegaraan.

b. Kitab kuning dan tradisi keilmuan di pesantren

Masalah kitab kuning dalam tradisi keilmuan pesantren tidak disampingkan, karena justru kitab kuning merupakan centra kajian keilmuan di pesantren. Permasalahan kitab kuning yang membentuk tradisi keilmuan pesantren sendiri cukup kompleks meliputi wujud dan bentuknya, sistematika dan bahasa, serta isi.

Tentang wujud dan bentuk, kitab kuning merupakan kitab-kitab yang dicetak dalam aksara Arab, baik berbahasa Arab, Melayu, Jawa, Sunda atau bahasa daerah lainnya, tanpa memakai harakat atau syakal, Karen itu ia disebut pula dengan kitab gundul. Karena itu pula untuk mampu membaca dan memahami kitab tersebut dibutuhkan keahlian bahasa dan tata bahasa Arab yang cukup baik, terutama ilmu nahwu dan sharaf / tasrifan. Umumnya kitab kuning dicetak pada kertas berwarna kuning karena kualitasnya yang kurang baik ; kitab juga tidak dijilid hingga dapat diambil perbab atau perlembar denga mudah.

Adapun isi kandungan kitab kuning meliputi beraneka ragam ilmu yang berkembang dalam tradisi Islam, seperti ilmu syari’at, adab-kesusasteraan, bahasa, pengetahuan umum, sejarah, matematika, metafisika, filsafat, mistik dan berbagai bidang keilmuan ulama klasik. Namun dapat dikatakan bahwa ilmu fiqh dan berbagai ilmu bantunya masio mendominasi isi kitab kuning. Karena itu tidak mengherankan bila isi kitab kuning cenderung diasosiaskan dengan fiqh30.

Namun, tradisi keilmuan dalam pesantren tidak hanya dipengaruhi oleh kitab kuning karena ia dipengaruhi pula oleh basis sejarah tertentu. Pada awalnya pesantren memang sarat dengan tradisi tasawuf bahkan ada indikasi bahwa tiap pesantren memperaktikkan terekat tasawuf tertentu, terutama yang berkembang dari Syekh Abdul Qadir Jailani. Namun pada akhir abad ke –19 sebagai akibat banyaknya santri dan jumlah haji tanah air, maka pesantren juga diwarnai oleh semangat nasionalisme, yang menyadarkan bagi kebangkitan Islam. Bahkan pada paruh abad ke-19 ketika banyak ulama Indonesia terkenal di Mekkah dan Madinah mereka turut menggiring Islam varian local Indonesia menuju Islam Internasional, hingga aspek-aspek terekat atau tasawuf dalam pesantren agak luntur. Dengan pertambahan pengetahuan, kemudian pesantren menjadi lebih toleran terhadap perbedaan pendapat dan lebih seirama dengan Islam timur Tengah, namun hal tersebut tidak sepenuhnya melunturkan Pesantren dari watak lokalnya. Dengan demikian pesantren turut diwarnai oleh Islam tradisional yang menjadi mainstream pemikiran Islam Internasional ketika itu.

Selain itu ada tradisi unik yang berkembang dalam tradisi pesantren di akhir abad ke-19, yaitu tidak afdalnya seorang santri yang melanjutkan studi di Mekkah tanpa bimbingan oleh ulama asal Jawa ( Indonesia) yang telah menjadi ulama di Masjid Al-Haram Mekkah, seperti Syekh Nawawi Al-Bateni dan Syekh Mahfudz dari Tremas31.

Berasal hasil interaksi tersebut kemudian para santri yang belajar di Mekkah berkenalan dengan tradisi pendidikan baru dengan system madrasah. Sebagai akibatnya, pesantren yang awalnya dikelola dalam system tradisional lambat laun menjadi modern, dan turut menyertakan santri putrid dalam strata santrinya. Hal ini berlangsung dari tahun 1910 dan 1920, di mana kurikulum pesantren tidak lagi dibatasi pada ilmu agama namun telah meliputi pula ilmu umum.32

Dengan demikian tradisi keilmuan pesantren dapat dikatakan mengalami beberapa perubahan, seiring dengan perubahan paradigma pendidikan tradisional dengan system atau metode sorongan dan bandongan, menuju paradigma pendidikan modern dengan metode modern. Singkatnya tradisi keilmuan pesantren sebernarnya amat dinamis, dan sebenarnya tidaklah tradisional sebagaimana anggapan awam, karena pesantren senantiasa mengembangkan tradisi keilmuannya, bah kini pesantren tidak lagi asing dengan pelajaran bahasa Inggris atau keilmuan umum lainnya.

2. Surau

a. Pengertian surau

Kata Surau menurut bahasa berarti tempat atau tempat penyembahan. Menurut pengertian asalnya adalah bangunan kecil yang dibangun untuk penyembahan arwah nenek moyang. pengertian yang sama yaitu tempat penyembahan arwah nenek moyang. Bangunan surau pada awalnya dibangun dipuncak bukit atau lingkungan yang lebih tinggi . 33

Surau menurut istilah Melayu – Indonesia adalah Surau . Arti kata surau sangat luas penggunaannya di Asia tenggara. Karena banyak digunakan di gunakan didaerah Minagkabau, Sumatera selatan, Semanjung Malasyia, Sumatera Tengah dan Patani ( Thailand Selatan) . Surau tersebut merupakan kebudayaan pedesaan yang perkembangannya lebih akhir dan dapat ditemukan di daerah urban34.

Surau dalam perkembangannya setelah datangnya Islam, mengalami perubahan yang dasat tanpa perubahan nama. Seperti surau hindu-budha yang berada puncak bukit cepat hilang di bawah pengaruh Islam.

b. Surau pada perkembangan Islam

Perkembangan istilah surau setelah masuknya Islam mengacuh kepada “ masjid kecil” yang biasanya tidak digunakan untuk shalat jum’at. Perbedaan penggunaan surau dan masjid cukup kabur, contoh Malasyia khsususnya klatan surau adalah pusat ritual keagamaan di pedesaan dan pusat kegiatan keagamaan lainnya termasuk pendidikan agama. Di Malasyia ada dua istilah Surau kecil umumnya tempat pengajian al-Qur’an dan pendidikan agama dasar dan surau besar sama fungsinya di Indonesia seperti masjid dan tempat pendidikan agama yang arti sebenarnya.

Fungsi surau sama dengan langgar di jawa sama kedudukannya. Seperti Surau pada daerah Minangkabau sama dengan Pesantren di Jawa atau pondok di Malasyia. Dengan demikian surau dalam pengertian sebenarnya adalah pusat pengajaran Islam tinggi bagi pelajara tingkat lanjutan35.

c. Surau dalam sejarah Minangkabau.

Sejarah pendidikan Islam di Minangkabau mulai dari 1900, yang mengalami perubahan semenjak terjadi pertempuran Padri. Tetapi sebelumnya kita melihat pendidikan Islam sebelum tahun 1900 M. Menurut pendapat setengah para ahli bahwa agama Islam masuk ke Minangkabau kira-kira pada tahun 1250 M36. Maka tentutlah waktu itu mulainya sejarah pendidikan agama Islam. Selain itu menurut ahli sejarah kerajaan Islam berdiri di Minangkabau pada tahun 1500 atau 1650 M. bahwa sesungguhnya bahwa kerajaan Islamlah yang baru berdiri. Pada kenyataannya Islam telah masuk ke Minangkabau sebelum tahun 1500 M37.

Menurut Ahmad Yunus bahwa orang-orang Minangkabau suka merantau dan banyak mengadakan hubungan dengan Malaka. Meraka pergi merantau menghiliri sungai kampar dan sungai siak, lalu berlayar ke malaka. Malaka pada saat itu agama Islam sudah maju dan pesat perkembangannnya. Agama Islam Masuk ke Minangkabau melalui dua jurusan : a) dari Malaka, melalui sungai sungai siak dan sungai Kampar lalu terus ke pusat Minangkabau. b) Dari Aceh, melalui pesisir barat38.

Islam di Minangkabau mengalami perbedaan pengaruhnya, pada bagian pesisir syarak lebih kuat dari pengaruh adat, sebab itu gelaran sutan, Bagindo atau Marah dari ayah ke ana, bukan dari mamak kepada kemenakan. Tetapi pada bagian darat pengaruh adat lebih kuat dari pada pengaruh syarak. Sebab gelar penghulu, Manti dan sebagainya turun dari mamak kepada kemenakan, bukan dari ayah kepada anak.

Setelah kerajaan Islam berdiri di Minangkabau, peraturan-peraturan yang berlaku dalam negeri namai hokum adat dan peraturan-peraturan secara Islam namai hokum Syarak. Sehingga pepatah adat yang bunyi; Adat bersendi syarak, syarak bersendi adat, Adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah.

Surau di Minangkabu pertamakali didirikan oleh raja Adityawarman tahun 1356 di kawasan Bukit Gombak39. Fungsi surau tersebut untuk sebagai pusat peribadatan hindhu-budha juga untuk pertemuan anak –anak muda untuk mempelajari berbagai pengetahuan dan keterampilan sebagai persiapan menempuh kehidupan. Selain itu surau sebelum datang Islam di Minangkabau telah mempunyai kedudukan penting dalam struktur masyarakat

Menurut ketentuan adat Minangkabau surau berfungsi sebagai tempat berkumpulnya para remaja, laki-laki dewasa yang belum kawin atau duda. Selain itu bagi laki-laki yang tak mempunyai kamar di rumah orang tuanya mereka, maka mereka bermalam disurau. Oleh karena itu surau mempunyai peranan penting dalam meningkatkan kedewasaan generasi muda Minangkabau, baik dari segi ilmu pengetahuan maupun keterampilan praktis.

Fungsi surau tidak berubah setelah datangnya Islam. Hanya saja fungsi keagamaanya semakin penting. Surau pertama kali dipergunakan untuk mengembangakan lembaga pendidikan agama Islam oleh syekh Burhanuddin di ulakan Pariaman. Syekh Burhanuddin dilahirkan di Sintuk Pariaman pada tahun 1066H = ( 1646 M ) dan wafat tahun 1111 H ( 1691 M) pada usia lebih kurang 45 Tahun40.

Syekh Burhanuddin belajar ilmu agama di Aceh ( kotaraja) pada syekh Abdul-Rauf bin Ali berasal dari Singkil, ia belajar dengan rajin sehingga ia menjadi ulama besar. Setelah ia kembali pulang ke Pariaman menyiarkan ilmu agama Islam. Mula-mula tempat lahirnya di Siantuk, kemudian pindah ke Ulakan. Di Ulakan beliau mengajarakan agama Islam dan membukan madrasah ( surau) tempat pendidikan dan pengajaran. Lebih lanjut menurut Ahmad Yunus barangkali surau pertama yang mula-mula didirikan di Minangkabau41.

Syekh Burhanuddin disamping mengajar dan mendidik banyak orang, ia juga mendidik beberapa orang pemuda yang akan menggantikannya bila ia meninggal. Empat orang muridnya yang berperan besar dalam mengembangkan suaraunya yang terkenal dengan sebutan Urang Ampek Angkek.

d. Kurikulum dalam Pendidikan Surau.

Para pelajar yang belajar disurau pada masa awal di sebut dengan Murid. Hal ini menunjukkan sifat khas surau,karena murid adalah sebuah temilogi sufi. Dalam perkembangan mereka disebut “ urang siak, “ pakih”, dan “pakir” ( Ar Fakir”). Penggunaan istilah fakih menunjukkan pada penekanan pada fiqh atau syariah pada umumnya42.

Dalam pendidikan surau, tidak ada tingkatan atau kelas. Kadang – kadang ada semacam pembagian, tetapi ini dasarkan pada tingkat kompetensi atau penguasaan ilmu tertentu, bukan jumlah tahun yang dihabiskan belajar disurau.

Metode utama yang dipakai dalam proses belajar mengajar di surau adalah ceramah, pembacaan dan penghafalan, yang lazimnya berpusat pada halaqah. Dalam melaksanakan dan menanmkan pendidikan agama pada murid-murid banyak surau-surau mengambil spesialisasi dan terkenal dalam bidang ilmu tertentu43. Misalnya surau Kamang terkenal dengan kekuatannya pada ilmu alat , yakni tentang bahasa Arab. Surau kota Gedang dalam ilmu mantiq ma’ani, Surau sumanik dalam tafsir dan fara’id; Surau Talang dan Surau Salayo dalam bidang nahwu ; Surau Kota Tua dalam bidang tafsir. Sebuah kitab tipikal Syattariyah yang ditulis guru surau Ulakan pada tahun 1757 mengungkapkan berbagai mata pelajaran yang diberikan kepada murid-murid termasuk bahasa Arab, tafsir dan bahkan pengobatan.

Surau mencapai puncak kejayaannya setidaknya hingga dasawarsa kedua abad 20, dengan system pendidikan yang khas, ketika belanda dan madrasah diperkenalkan kelompok muslim modernis44. Bukti –bukti menunjukan bahwa pendidikan surau tetap memainkan peran penting bagi masyarakat Islam Minangkabau sepanjang abad 19, karena setiap desa di Minangkabau yang memiliki surau untuk memberikan pelajaran Al-qur’an, hadits, bahasa Arab dan pengetahuan-pengetahuan lainnya. Selain itu masih dan surau yang bertahan sejak abad 18, yaitu 15 surau besar di Minangkabau darek ( dataran tinggi).

Pendidikan Islam di Minangkabau mengalami periode pembaruan model pendidikan yang menggunakan Sistem pendidikan Islam sebelum tahun 1900 yang dinamai system lama. System pendidikan Islam setelah tahun 1900 atau masa perubahan dari tahun 1900-1908.

1. Modernisasi pendidikan Islam di Indonesia

Modernisasi yang mengandung pikiran, aliran, gerakan, dan usaha untuk mengubah paham,adat istiadat, instituisi lama dan sebagainya, agar semua itu dapat disesuaikan dengan pendapat-pendapat dan keadaan baru yang timbul oleh tujuan ilmu pengetahuan serta teknologi modern. Modernisasi atau pembaruan juga berarti proses pergeseran sikap dan mentalitas mental sebagai warga masyarakat untuk bisa hidup sesuai dengan tuntutan hidup masyarakat kini.46 Modernisasi merupakan proses penyesuaian pedidikan Islam dengan kemajuan zaman.

Latar belakang danPola-pola pembaharuan dalam Islam, khususnya dalam pendidikan mengambil tempat sebagai : 1) golongan yang berorentasi pada pola pendidikan modern barat, 2) gerakan pembaharuan pendidikan Islam yang berorentasi pada sumber Islam yang murni dan 3) pembaharuan pendidikan yang berorentasi pada nasionalisme47.

Modernisasi pendidikan Islam Indonesia masa awalnya dikenalkan oleh bangsa kolonial Belanda pada awal abad ke-1948. Program yang dilaksanakan oleh kolonial Belanda dengan mendirikan Volkshoolen, sekolah rakyat, atau sekolah desa ( Nagari) dengan masa belajar selama 3 tahun, di beberapa tempat di Indonesia sejak dasawarsa 1870-an. Pada tahun 1871 terdapat 263 sekolah dasar semacam itu dengan siswa sekitar 16.606 orang; dan menjelang 1892 meningkat menjadi 515 sekolah dengan sekitar 52.685 murid.

Point penting eksprimen Belanda dengan sekolah nagari terhadap system dan kelembagaan pendidikan Islam adalah tranformasi sebagian surau di Mingkabau menjadi sekolah nagari model Belanda. Memang berbeda dengan masyarakat muslim jawa umumnya memberikan respon yang dingin, banyak kalangan masyrakat muslim Minangkabau memberikan respon yang cukup baik terhadap sekolah desa. Perbedaan respon masyarakat Muslim Minangkabau dan jawa banyak berkaitan dengan watak cultural yang relatif berbeda, selain itu juga berkaitan dengan pengalaman histories yang relatif berbeda baik dalam proses dan perkembangan Islamisasi maupun dalam berhadapan dengan kekuasaan Belanda.

Selain itu perubahan atau modernisasi pendidikan Islam datang dari kaum reformis atau modernis Muslim. Gerakan reformis Muslim yang menemukan momentumnya sejal abad 20 berpendapat, diperlukan reformasi system pendidikan Islam untuk mempu menjawab tantangan kolonialisme dan ekspansi Kristen.

Respon system pendidikan Islam tradisional seperti suaru ( Minangkabau) dan Pesantren ( Jawa) terhadap modernisasi pendidikan Islam menurut Karel Steenbrink dalam kontek surau tradisional menyebutnya sebagai menolak dan mencontoh, dalam kontek pesantren sebagai menolak sambil mengikuti. Untuk itu , tak bisa lain dalam pandangan mereka , surau harus mengadopsi pula beberapa unsure pendidikan modern yang telah diterapkan oleh kaum reformis, khususnya system klasikal dan penjejangan, tanpa mengubah secara signifikan isi pendidikan surau itu sendiri.

Selain respon yang diberikan oleh pesantren di jawa, komunitas pesantren menolak asumsi-asumsi keagamaan kaum reformis. Tetapi pada saat tertentu mereka pasti mengikuti langka kaum reformis . karena memiliki manfaat bagi para santri, seperti system penjenjangan, kurikulum yang lebih jelas dan system klasikal. Pesantern yang mengikuti jejak kaum reformis adalah pesanteren Mambahul ‘ulum di Surakarta, dan di ikuti oleh pesantren Modern Gontor di Ponorogo. Pondok tersebut memasukan sejumlah mata pelajaran umum ke dalam kurikulumnya, juga mendorong santrinya untuk memperlajari bahasa Inggris selain bahasa Arab dan melaksanakan sejumlah kegiatan ekstra kurikuler seperti olah raga, kesenian dan sebagainya.

Sistem Pendidikan Islam pada mulanya diadakan di surau-surau dengan tidak berkelas-kelas dan tiada pula memakai bangku, meja, dan papan tulis, hanya duduk bersela saja. Kemudian mulialah perubahan sedikit demi sedikit sampai sekarang. Pendidikan Islam yang mula-mula berkelas dan memakai bangku, meja dan papan tulis, ialah Sekolah Adabiah ( Adabiah School) di Padang49.

Adabiah School merupakan madrasah (sekolah agama) yang pertama di Minangkabau, bahkan diseluruh Indonesia. Madrasah Adabiah didirikan oleh Almarhum Syekh Abdullah Ahmad pada tahun 1909. Adabiah hidup sebagai madrasah sampai tahun 1914, kemudian diubah menjadi H.I.S. Adabiah pada tahun 1915 di Minangkabau yang pertama memasukkan pelajaran Agama dalam rencana pelajarannya. Sekarang Adabiah telah menjadi sekolah Rakyat dan SMP.

Setelah berdirinya madrasah Adabiah, maka selanjutnya diikuti madrasah lainnya seperti madras Schol di Sungyang ( daerah Batusangkar) oleh Syekh M.Thaib tahun 1910 M, Diniah School ( madrasah diniah) oleh Zainuddin Labai Al-Junusi di Padangpanjang tahun 191550.

Di antara guru Agama banyak juga mengarang kitab-kitab untuk madrasah ialah 1)H. Jalaluddin Thaib, seperti kitab jenjang bahasa arab 1-2, Tingkatan bahasa arab 1-2, Tafsir Al-Munir 1-2, ( 2) Anku Mudo Abdul hamid Hakim, seperti kitab: Al-Mu’in Al-Mubin 1-5, As-Sullam, Al-Bayan Tahzibul akhlaq, ( 3) Abdur-Rahim Al-Manafi seperti kitab : Mahadi ‘ilmu Nahu, Mahadi ilmu Sharaf, Al-Tashil, Lubahul Fighi, Al-Huda, Asasul adab.52

Ulama-ulama yang mengadakan perubahan dalam pendidikan Islam di Minangkabau adalah 1) syekh Muhd. Thaib Umar Sungayang, batu sangkar tahun 1874-1920 M. 2) Syekh H.Abdullah Ahmad, Padang tahun 1878 M-1933M, 3) Syekh H. Abdul karim Amrullah, Maninjau 1879-1945 M, 4) Syekh H.M. Jamil Jambek bukittinggi 1860-1947, 5) dan lain-lain.53

Surau –surau yang termashur di Minangkabau adalah sebagai berikut ; 1) Surau Tanjung Sungyang didirikan oleh Syekh H.M Thaib Umar pada tahun 1897 M dan masih hidup sampai sekarang dengan nama Al-Hidayah dan SMPI, PGA., 2) Surau Parabek, bukittinggi didirikan oleh Syekh H. Ibrahim Musa pada tahun 1908 M. dan masih hidup sampai sekarang dengan nama Thawalib, 3) Surau padang Japang didirikan oleh Syekh H. Abbas Abdullah pada tahun … dan masih hidup sampai sekarang dengan nama Darul funun Abbasiah, 4) dan lain-lain54.

Tentang keadaan pendidikan Islam di Minangkabau pada masa beberapa tahun sebelum tahun 1900. dilukiskan dalam skema pendidikan Islam55.

II. Pengajian Kitab :

Ilmu Tafsir dan lain-lain

Ilmu Fiqhi

Ilmu Sharaf / Nahu

I. Pengajian Al-Qur’an

Keterangan :

pengajian Al-Qur’an, lama pelajarannya tidak ditentukan, ada 2, 3 dan 4 tahun. Pelajaran diberikan kepada seorang demi seorang.

Pada tingkat atas di tambah dengan tajwid, lagi qasidah, berzanji dan sebagainya serta memperlajari kitab perukunan.

II. Pengajian kitab

Lamanya tidak ditentukan, ada yang 10 sampai 15 tahun lamanya.

Pelajarannya menurut tertib di bawah ini, diajarkan satu demi satu : 1. ilmu sharaf, 2) ilmu Sharaf, 3) Ilmu fiqh, 4) Ilmu Tafsir dan lain-lain.

Skema susunan pendidikan Islam pada masa perubahan tahun 1900-1908 51

II. Pengajian Kitab

Memperdalam ilmu-ilmu tersebut di tambah dengan mantiq, Balaghah, Hadits, Tafsir, Ushul figh dan sebagainya 12 macam ilmu

a. Nahu / Sharaf

b. Fiqhi

c. Tauhid

a. Nahu / sharaf

b. fiqhi


Pengajian Al-Qur’an

Keterangan : Bahwa pelajaran Nahu / Sharaf dan Fiqhi, bukan diajarkan satu demi satu seperti system lama, melainkan diajarkan sekaligus. Jadi murid-murid pada tiap-tiap hari belajar Nahu / Sharaf dan fiqhi. Dan begitulah seterusnya.

Perbandingan pendidikan Islam menurut sistim lama dengan pendidikan Islam pada masa perubahan52

Sistem lama

Masa perubahan

1. pelajaran ilmu-ilmu itu diajarkan satu demi Satu

2. Pelajaran ilmu sharaf didahulukan dari ilmu nahwu

3. Buku pelajaran yang mula-mula dikarang oleh ulama Indonesia serta terjemahkan dengan bahasa Melayu.

4. kitab-kitab itu umumnya tulis tangan

5. Pelajaran suatu ilmu, hanya dikerjarakan dalam satu macam kitab saja.

6. Toko kitab belum ada, hanya ada orang pandai menyalin kitab dengan tulisan tangan.

7. Ilmu agama sedikit sekali, karena sedikit bacaan.

8. Belum lahir aliran baru dalam Islam.

1. Pelajaran ilmu-ilmu itu dihimpun 2 sampai 6 ilmu sekaligus.

2. Pelajaran ilmu Nahwu di dahulukan / disamakan dengan ilmu sharaf.

3. Buku Pelajaran semuanya karangan ulama Islam dahulu kala dan dalam bahasa Arab.

4. kitab-kitab itu semuanya dicetak ( dicap).

5. Pelajaran suatu ilmu di ajarkan dalam beberapa macam kitab : rendah, menengah dan tinggi.

6. Toko kitab telah ada yang memesan kitab-kitab ke Mesir / Mekkah.

7. Ilmu agama telah luas berkembang, karena telah banyak kitab bacaan.

8. Mulai lahir aliran baru dalam Islam yang bawa oleh majalah Al-Manar di Mesir.

III. Kesimpulan

1. Pendidikan Islam di Indonesia mengalamai dua priodesasi dalam perkembangan yaitu periode sebelum tahun 1900 merupakan pendidikan Islam secara tradisional. Sedangkan priode setelah tahun 1900 atau awal abad 20 merupakan awal pembaharuan pendidikan Islam Indonesia.

2. Perintis perubahan atau pembaharuan pendidikan Islam Indonesia menuju modernisasi pedidikan Islam yang modern; pertama datang dari pemerintahan Belanda yang mendirikan sekolah rakyat dan kedua datang dari para reformis muslim yang merupakan para pelajar-pelajar Indonesia kembali dari di Mekah yang belajar disana.

3. Lembaga pendidikan Islam baik itu Pesantren maupun Surau pada awal permulaan masih dilaksanakan dengan system tradisional tidak adanya klasikal setelah adanya serangan dari para reformis Muslim lambat laun menerima dengan respon yang baik dan masih ada sebagian lembaga pendidikan Islam yang masih tetap melaksanakan secara tradisional.

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman, Pesantren, Madrasah, Sekolah, Pendidikan Islam dalam kurun Modern, Jakarta ; Pustaka LP3ES, 1994, Cet. Ke 2.

Azyurmadi, Pendidikan Islam, Tradisi dan Modernisasi Menuju Milinium Baru, Jakarta : Logos 1990.

Abuddin Nata, Sejarah Pendidikan Islam pada periode klasik dan Pertengahan, Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2004

Disarikan dari Cliford Geetz, The Religion of Java, ( Ter), Aswab Mahasin, Abangan, Santri, Priyayi dalam masyarakat Jawa, Jakarta : Kerja sama Yayasan ilmu-ilmu social dan Dunia Pustaka Jaya. 1983, Cet. Ke-3

Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia ; Lintas Sejarah Pertumbuhan dan perkembangan, Jakarta : lembaga studi Islam dan Kemasyarakatan, 1995, Cet. Ke-1

Karel A. Steenbrink, Pesantren Madrasah sekolah Pendidikan Islam dalam Kurun Moderen, Jakarta : LP3ES

Mammud Junus, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta ; Pustaka Mahmudah, 1960

Muhammad Ali Yafie, Arti kehadiran kitab kuning bagi perkembangan Hukum di Indonesia, dalam Jurnal Studi dan Informasi Keagaman, Dialog, No. 28, Th. XIII, Maret 1989

Martin van Bruinessen, Pesantren dan Kitab Kuning ; Pemelihara dan Kesinambungan Tradisi Pesantren, dalam jurnal Ilmu dan Kebudayaan Ulumul Qur’an, Vol III, No. 4 Th. 1992.

Whjoetomo, Perguruan Tinggi Pesantren, Alternatif Masa Depan, Jakarta : Gema Insani Press, 1997

Zamakhsyari dhofir, Tradisi Pesantren : Studi tentang Pandangan Hidup Kyai, Jakarta : LP3ES, 1994. cet. Ke-6

Yunus, Mahmud, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta : Hidakarya Agung, 1984


Yunus, Mahmud, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta : Hidakarya Agung, 1984), Hal 10

2 Yunus, Mahmud, ibid, Hal 172

3 Azyurmadi, Pendidikan Islam, Tradisi dan Modernisasi Menuju Milinium Baru, Jakarta : Logos 1990.

4 Abuddin Nata, Sejarah Pendidikan Islam pada periode klasik dan Pertengahan, Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2004, Hal. 185

5 Abuddin Nata, ibid hal 188

6 Abuddin Nata, ibid hal 194

7 Abuddin Nata, ibid hal 195

8 Yunus, Mahmud, op.cit Hal 22

9 Abuddin Nata, op.cit hal 195

10 Abuddin Nata, ibid hal 196

11 Pada uraian ini seluruhnya mengutip Abuddin Nata, ibid hal 198-200

12 Disarikan dari Cliford Geetz, The Religion of Java, ( Ter), Aswab Mahasin, Abangan, Santri, Priyayi dalam masyarakat Jawa, Jakarta : Kerja sama Yayasan ilmu-ilmu social dan Dunia Pustaka Jaya. 1983, Cet. Ke-3 hal. 241-244.

13 Martin van Bruinessen, Pesantren dan Kitab Kuning ; Pemelihara dan Kesinambungan Tradisi Pesantren, dalam jurnal Ilmu dan Kebudayaan Ulumul Qur’an, Vol III, No. 4 Th. 1992. hal 73

14 Burnissen, Ibid hal 77.

15 Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia ; Lintas Sejarah Pertumbuhan dan perkembangan, Jakarta : lembaga studi Islam dan Kemasyarakatan, 1995, Cet. Ke-1, Hal 24

16 Whjoetomo, Perguruan Tinggi Pesantren, Alternatif Masa Depan, Jakarta : Gema Insani Press, 1997

17 Hasbullah, Ibid, hal 139.

18 Bruinessen, op.cit hal 76-77

19 Mahmud yunus, op.cit hal 104-2017.

20 Karel A. Steenbrink, Recente Ontwikkelingen in Indonesisch Islamonderricht, ( Terj.) Karel A.Steenbrink dan Abdurrahman, Pesantren, Madrasah, Sekolah, Pendidikan Islam dalam kurun Modern, Jakarta ; Pustaka LP3ES, 1994, Cet. Ke 2. Hal. 13

21 Zamakhsyari dhofir, Tradisi Pesantren : Studi tentang Pandangan Hidup Kyai, Jakarta : LP3ES, 1994. cet. Ke-6, Hal 28-29.

22 Steenbrink, op.cit hal hal-13-14

23 Dhorier, op. cit hal 50

24 Mammud Junus, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta ; Pustaka Mahmudah, 1960, Hal 50.

25 Steenbrik, op.cit hal 17-18.

26 Steenbrink, ibid hal 15

27 Dhofier, op.cit,hal 31

28 Dhofier, ibid hal 31

29 stennbrink , op.cit hal 20

30 Muhammad Ali Yafie, Arti kehadiran kitab kuning bagi perkembangan Hukum di Indonesia, dalam Jurnal Studi dan Informasi Keagaman, Dialog, No. 28, Th. XIII, Maret 1989, hal. 10-11

31 Dhofier, op.cit hal 36-37

32 Dhofier, ibid hal 38

33 Azyurmadi, op.cit hal 117

34 Azyurmadi, ibid hal 117

35 Azyurmadi, ibid hal 118

36 Mahmud Yunus, op.cit hal 18

37 Mahmud Yunus, ibid hal 21

38 Mahmud Yunus, op.cit hal 22

39 Azyumardi, op.cit hal 118

40 Mahmud Yunus, op.cit hal 18

41 Mahmud Yunus, op.cit hal 22

42 Azyumardi, op.cit hal 121

43 Azyumardi, op.cit hal 121

44 Azyumardi, op.cit hal 121-122

46 Abuddin Nata, ibid hal 87-88.

47 Abuddin Nata , ibid hal 88.

48 Azyumardi, op.cit hal 98

49 Mahmud yunud, op.cit hal 63

50 Mahmud Yunus, op.cit hal 66

52 Mahmud Yunus, op.cit hal 67

53 Mahmud Yunus, op.cit hal 59

54 Mahmud Yunus, op.cit hal 60

55 Mahmud Yunus, op.cit hal 50

51 Mahmud Yunus, op.cit hal 61

52 Mahmud Yunus, op.cit hal 66

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar